Penjelasan tentang Meningitis Bakteri


Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meninges, suatu membran yang menyelimuti otak dan spinal cord (sumsum tulang belakang). Meningitis dapat terjadi karena infeksi bakteri, virus, fungi, juga karena kejadian noninfeksi seperti inflamasi karena pengobatan, cochlear implant, atau keganasan (Mehlhorn dan Sucher, 2005). Meningitis bakteri adalah penyakit infeksi parah yang disebabkan oleh bakteri pada selaput otak dan sumsum tulang belakang (Van de Beek et al., 2002; Brouwer et al., 2010).


  • Etiologi 
Banyak faktor yang mempengaruhi etiologi penyakit meningitis bakteri. Beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain usia, faktor-faktor risiko (seperti gangguan imunitas, sinusitis, trauma kepala, dan sickle cell disease), serta variasi musim dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya meningitis bakteri. Hal ini penting diketahui untuk pengambilan keputusan dalam terapi empirik.

Keberhasilan penggunaan vaksin Haemophilus influenza tipe b (Hib) secara luas selama beberapa tahun terakhir telah merubah epidemiologi bakteri meningitis secara signifikan. Haemophilus influenza merupakan organisme penyebab meningitis bakteri yang paling banyak ditemukan pada seluruh kelompok umur dan secara signifikan telah mengalami penurunan dari 48% menjadi 7% dari seluruh kasus. Pada kasus yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis masih menunjukkan persentase kejadian yang konstan yaitu pada 14% – 25%, pada beberapa kasus terjadi antara umur 2-18 tahun. Staphyloccocus pneumonia menjadi penyebab paling sering pada seluruh kelompok umur (Swartz, 2007; Tolan, 2009).

Organisme penyebab meningitis bakteri pada anak terbagi atas beberapa golongan umur, yaitu:

  1. Neonatus: Escherichia coli, Streptococcus beta hemolitikus, Listeria monocytogenesis.
  2. Anak di bawah 4 tahun: Haemophilus influenza, Meningococcus, Pneumococcus.
  3. Anak di atas 4 tahun dan orang dewasa: Meningococcus, Pneumococcus.
  • Patofisiologi
Bakteri yang umumnya menyebabkan meningitis adalah patogen di nasofaring, dimana faktor predisposisi seperti infeksi saluran nafas bagian atas harus ada sebelum bakteri beredar dalam darah. Meningitis bakteri juga dapat muncul akibat infeksi telinga, gigi, atau paraspinal (akibat trauma atau neurosurgery yang merusak barrier anatomis) (McCance dan Hueter, 2006). 

Pada saat patogen memasuki sistem saraf pusat melalui plexus choroideus atau area dengan perubahan sawar darah otak, terjadi peristiwa yang bertahap, diawali dengan bermultiplikasinya bakteri di ruang subarachnoid (McCance dan Hueter, 2006). Adanya komponen dinding sel bakteri memicu produksi sitokin termasuk interleukin-1, tumor nekrosis faktor, dan prostaglandin E2, yang memicu peningkatan aliran darah ke otak. Sitokin juga mengubah permeabilitas sawar darah otak dengan cara mengganggu integritas tight junction sehingga menyebabkan terjadinya edema cerebral. Peningkatan tekanan intrakranial menyebabkan peningkatan aliran darah dan edema sehingga terjadi penurunan perfusi serebral. Proses inflamasi menyebabkan terjadinya vaskulitis dan trombotik yang berkontribusi pada terjadinya iskemia serebral (Pfeiffer dan Avery, 2000)
  • Diagnosis 
Penegakan diagnosis meningitis bakteri akut, tidak cukup hanya berdasarkan tanda dan gejala yang mengarah ke proses patologis dari meningeal atau intrakranial. Hal ini disebabkan adanya penyakit dengan tanda dan gejala yang serupa sehingga dalam penegakan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan cairan serebrospinal (lumbal pungsi) (Feigin dan Cutrer, 2004).

Diagnosis dini dan pemberian antibiotik sesegera mungkin, dapat mengurangi angka kematian dan kecacatan bila dibandingkan memperpanjang durasi terapi. Kematian dan sekuel jangka panjang merupakan akibat inflamasi dan kerusakan neural akibat iskemi, yang sering terjadi pada tahap sebelum dan awal pemberian antibiotik (Anonim, 2012). Oleh karena itu, ahli medis harus segera melakukan lumbal pungsi pada anak yang memiliki riwayat anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mendukung kearah diagnosis, kecuali jika terdapat kontraindikasi terhadap tindakan tersebut, seperti peningkatan tekanan intrakranial, uncorrected coagulopathy, dan terdapat gangguan kardiopulmoner (Anonim, 2008).

Pasien yang memiliki tanda peningkatan tekanan intrakranial, lumbal pungsi harus ditunda hingga dilakukan pemeriksaan CT Scan. Hasil dari CT Scan yang normal belum tentu menyingkirkan adanya peningkatan tekanan intrakranial dan bila hasil CT scan terdapat kelainan, maka lumbal pungsi ditunda dan terapi antibiotik dapat langsung dimulai (Anonim, 2008).

Diagnosis meningitis bakteri biasanya dikonfirmasi dengan melakukan analisis bakteriologis menggunakan mikroskop dan kultur bakteri dari cairan serebrospinal (CSS). Jika analisis kultur bakteri dari cairan serebrospinal sulit/tidak dapat dilakukan, maka diagnosis dapat dilakukan dengan melihat hasil CT scan kepala dan adanya abnormalitas secara biokimiawi pada cairan serebrospinal. Pasien dengan meningitis bakteri biasanya ditunjukkan dengan hasil uji laboratorium, seperti jumlah sel lebih besar dari 32/mm3 , tingkat protein lebih dari 150 mg/dL, tingkat glukosa kurang dari 1 mmol/L  (Ogunlesi dan Odigwe, 2013). Protein pada cairan serebrospinal harus diukur karena pada meningitis bakteri nilai protein biasanya meningkat dan konsentrasi glukosa pada cairan serebrospinal harus dibandingkan dengan konsentrasi glukosa dalam darah. Pada pasien dengan meningitis bakteri yang menjadi tolak ukur adalah penurunan glukosa cairan serebrospinal dan rasio antara serebrospinal dengan glukosa darah (sekitar 66%) (Anonim, 2008). Metode serologi seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) juga dapat mendeteksi antigen dari organisme bakteri pada cairan serebrospinal (Ogunlesi dan Odigwe, 2013).

Serum elektrolit perlu diukur karena Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone (SIADH) sering terjadi pada meningitis bakteri walaupun hiponatremia tercatat hanya terjadi pada 35% kasus. Leukopenia, trombositopenia dan koagulopati dapat terjadi di infeksi meningokokal. Pemeriksaan leukosit periferal pada pneumokokal meningitis dan viral meningitis biasanya masih dalam kisaran normal namun pada beberapa kasus, terdapat peningkatan (Prober dan Dyner, 2011).
  • Penatalaksanaan Meningitis Bakteri
Prinsip terapi meningitis bakteri adalah pemberian terapi antibiotik secara tepat dan cepat. Hal ini dapat menurunkan angka kematian dan neurologic squeleae. Beberapa ahli mengatakan bahwa terapi antibiotik harus dimulai dalam 30 menit setelah dilakukannya evaluasi medik (Reese et al., 2000). Analisis terhadap 156 pasien dengan pneumokokal meningitis di 56 ruang rawat intensif di Perancis menunjukkan bahwa keterlambatan  pemberian antibiotik lebih dari 3 jam dari sejak saat masuk berhubungan dengan terjadinya kematian Odds Ratio (OR) 14,1 (95%CI 3,93-50,9). Hasil serupa juga diperoleh pada penelitian di Kanada yang menunjukkan bahwa keterlambatan pemberian antibiotik lebih dari 6 jam dari saat masuk RS berhubungan dengan mortalitas dengan OR 8,4 (95% CI 1,7-40,9 p<0,01) dan penelitian di Denmark menunjukkan bahwa terjadi peningkatan risiko kematian per jam keterlambatan pemberian antibiotik dengan OR 1.09 (95% CI 1.01–1.19) (Stockdale et al., 2011).

Terapi awal pada pasien yang diduga mengalami meningitis bakteri akut tergantung pada gejala-gejala awal yang diketahui, analisis diagnosis cepat, serta ketersediaan antimikroba dan terapi adjuvan (Tunkel et al, 2004). Terapi suportif dengan pemberian cairan, elektrolit, analgesik, dan antipiretik diindikasikan pada pasien yang mengalami meningitis bakteri akut (Hermsen dan Rotschafer, 2005). 

Pemberian terapi empirik antibiotik pada meningitis harus diberikan sampai 48-72 jam atau sampai patogen dapat diidentifikasikan (Hermsen dan Rotschafer, 2005). Antibiotik yang direkomendasikan untuk terapi empirik meningitis purulen berdasarkan faktor predisposisi usia menurut Tunkel et al. 

0 Response to "Penjelasan tentang Meningitis Bakteri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel