ANGIOSTRONGYLIASIS (Eosinophilic meningoenchepalitis, Eosinophilic meningitis)


ANGIOSTRONGYLIASIS(Eosinophilic meningoenchepalitis, Eosinophilic meningitis)
  1. Identifikasi. Penyakit nematoda dari Susunan Saraf Pusat (SSP) terutama menyerang selaput otak. Invasi parasit mungkin tidak memberikan gejala atau muncul gejala yang ringan, pada umumnya ditandai dengan sakit kepala berat, kaku pada leher dan punggung dengan paresthesia yang bervariasi. Kira kira 5 % penderita mengalami kelumpuhan pada muka dan terjadi secara temporer. Demam ringan mungkin muncul. Cacing ditemukan di Liquor Cerebrospinalis (LCS) dan mata. LCS biasanya menunjukkan gejala pleositosis dengan lebih dari 20 % eosinofil; Eosinofilia tidak selalu ada tetapi mencapai sekitar 82 %. Penyakit berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa bulan. Jarang terjadi kematian. Diferensial diagnosis adalah dengan cysticercosis otak, paragonimiasis, echinococcosis, gnathomiasis, tuberculous meningitis, coccidiodal meningitis, aseptic meningitis dan neurosyphillis. Diagnosa, terutama di daerah endemis, yaitu dengan ditemukannya sel eosinofil di dalam LCS dan adanya riwayat pernah mengkonsumsi kerang mentah. Tes imunodiagnostik bersifat presumtif; ditemukannya cacing di dalam LCS atau pada otopsi lebih menegaskan diagnosa.
  2.  Penyebab penyakit Parastrongylus (Angiostrongylus) cantonensis, adalah nematoda (cacing paru dari tikus). Larva stadium 3 pada hospes intermediair (kerang darat atau kerang laut) infektif terhadap manusia. 
  3. Disribusi penyakit. Penyakit ini endemis di Hawaii, Tahiti, banyak pulau di Kepulauan Pasifik, Vietman, Thailand, Malaysia, Cina, Indonesia, Taiwan, Filipina dan Kuba. Nematoda ditemukan di bagian utara Jepang, Selatan Brisbane, Australia dan di Afrika ditemukan di bagian barat Pantai Gading dan juga dilaporkan ditemukan di Madagaskar, Mesir, Puertorico dan New Orleans (AS). 
  4. Reservoir : tikus (Rattus and Bandicota spp) 
  5. Cara penularan : Karena memakan siput mentah atau setengah matang, siput dan planarian darat yang merupakan hospes intermediair atau berperan sebagai alat transport yang mengandung larva infektif. Udang, ikan dan kepiting darat yang memakan kerang atau siput bisa membawa larva infektif. Salada dan sayuran lainnya yang terkontaminasi oleh kerang kecil bisa berperan sebagai sumber infeksi. Kerang terinfeksi oleh larva stadium pertama yang diekskresikan oleh tikus yang terinfeksi; pada saat larva stadium ketiga berkembang didalam kerang, maka tikus (dan manusia) yang menelan kerang juga akan terinfeksi. Di dalam tubuh tikus, larva pindah ke otak dan di otak matang menjadi stadium dewasa; larva dewasa muda pindah ke permukaan otak dan melalui pembuluh vena mencapai tujuan akhir mereka di arteri pulmonaris. Sesudah kawin, cacing betina meninggalkan telur-telurnya yang kemudian menetas di ujung arteri pulmonaris; larva stadium pertama memasuki sistem bronkhi, melewati trakhea, tertelan dan keluar melalui tinja. Pada manusia, siklus ini jarang sekali melewati stadium SSP (Susunan Saraf Pusat). 
  6. Masa inkubasi : Biasanya 1 – 3 minggu, bisa juga lebih pendek atau lebih panjang. 
  7. Masa penularan : Tidak ditularkan dari orang ke orang. 
  8. Kerentanan dan kekebalan. Semua orang rentan terhadap infeksi. Malnutrisi dan penyakit penyakit yang melemahkan keadaan umum bisa membuat penyakit ini bertambah berat bahkan fatal. 
Cara pemberantasan.
 Tindakan pencegahan.

1). Memberi penyuluhan kepada masyarakat umum tentang cara-cara menyiapkan makanan mentah dan makanan yang berasal dari siput baik siput darat maupun laut. 2). Pengendalian tikus. 3). Rebus siput, udang, ikan dan kepiting selama 3 – 5 menit atau bekukan pada – 15 oC (5oF) selama 24 jam; tindakan ini efektif membunuh larva. 4). Hindari makan makanan mentah yang terkontaminasi oleh siput dan mollusca, membersihkan salada dan sayur-sayuran dengan seksama untuk menghilangkan mollusca tidak selalu dapat menghilangkan larva yang infektif. Radiasi dan pasturisasi akan sangat efektif. B. Pengawasan dari penderita, kontak dan lingkungan sekitar. 1). Laporan kepada institusi kesehatan setempat; laporan resmi tidak dilakukan. Class 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular). 2). Isolasi: tidak dilakukan. 3). Disinfeksi serentak : Tidak diperlukan. 4). Karantina : tidak dilakukan. 5). Imunisasi kontak : tidak dilakukan. 6). Investigasi dari kontak dan sumber infeksi : perlu dilakukan investigasi terhadap makanan yang diduga sebagai sumber infeksi serta cara-cara makanan tersebut disiapkan. 7). Pengobatan spesifik : Mebendazole dan albendazole efektif untuk pengobatan anak-anak di Taiwan. C. Penanggulangan wabah : Jika ditemukan adanya pengelompokan sejumlah kasus dalam wilayah geografis tertentu atau pada suatu institusi tertentu, segera lakukan penyelidikan epidemiologis. D. Implikasi bencana : tidak ada. E. Tindakan internasional : tidak ada. Pada tahun 1967, sindroma yang mirip dengan penyakit usus buntu ditemukan di Costa Rica, terutama pada anak-anak dibawah usia 13 tahun, dengan rasa sakit dan tegang pada perut dan fosa iliaca kanan dan punggung, demam, tidak nafsu makan, muntah, terasa kaku pada abdomen, teraba massa seperti tumor di bagian kanan bawah dan terasa sakit ketika dilakukan tuse rektal. Lekositosis umumnya berada pada angka 20.000 dan 30.000/cu mm (unit SI: 20 – 30 x 109/L) dengan eosinofil berkisar dari 11 % hingga 61 %. Pada waktu dilakukan operasi, ditemukan jaringan granulasi berwarna kuning pada lapisan subserosa dinding usus. Dan telur serta larva dari Parastrongylus (Angiostrongylus) costaricensis ditemukan di pembuluh limfe, dinding usus dan omentum; cacing dewasa ditemukan di arteri kecil, pada umumnya di daerah ileosekal. Infeksi ditemukan pada penduduk di Amerika Tengah, Amerika Selatan dan di AS. Reservoir parasit ini adalah tikus (tikus kapas, Sigmodon hispidus, cacing ini antara lain ditemukan di daerah selatan AS), siput biasanya selalu merupakan hospes intermediair. Cacing dewasa hidup di arteria mesenterika di daerah sekal, dan telur-telurnya dibawa ke dinding usus halus. Pada masa embrionasi, larva stadium pertama pindah ke lumen usus, dikeluarkan bersama tinja dan di telan oleh siput. Didalam tubuh siput, larva ini berkembang hingga stadium tiga, yang sudah infektif bagi manusia dan tikus. Larva infektif ini ditemukan pada lendir keong yang ditinggalkan di permukaan tanah dan permukaan tempat-tempat lain. Jika lendir atau keong kecil ini ditelan oleh manusia, maka larva infektif ini masuk ke dalam dinding usus, menjadi matang di kelenjar limfe dan pembuluh darah limfa. Cacing dewasa migrasi ke arteriolae mesenterika di daerah ileosekal dimana telur-telur diletakkan. Pada manusia, sebagian besar telur dan larva ini mengalami degenerasi dan menyebabkan reaksi granulomatosa. Tidak ada pengobatan spesifik, tindakan bedah kadang-kadang perlu dilakukan. 

0 Response to "ANGIOSTRONGYLIASIS (Eosinophilic meningoenchepalitis, Eosinophilic meningitis)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel